Sikap dan Ketegasan Bupati–Wakil Bupati Lahat Dinantikan, Janji “Menata Kota Membangun Desa” Diuji Publik

Sikap dan Ketegasan Bupati–Wakil Bupati Lahat Dinantikan, Janji “Menata Kota Membangun Desa” Diuji Publik

Jumat, 09 Januari 2026

Lahat | Kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Lahat, Bursah Zarnubi–Widia Ningsih (BZ–WIN), segera memasuki tahun pertama. Dilantik pada 20 Februari 2024, pasangan yang mengusung jargon “Menata Kota, Membangun Desa” ini kini berada pada fase krusial: masa evaluasi publik atas janji politik dan arah kebijakan yang telah dijalankan.

Hampir satu tahun berjalan, sejumlah program pemerintahan memang telah diluncurkan. Beberapa sektor pembangunan fisik, pelayanan dasar, serta tata kelola pemerintahan mulai disentuh. Namun, di sisi lain, masih muncul catatan kritis terkait implementasi program yang dinilai belum berjalan optimal dan belum sepenuhnya menyentuh kebutuhan riil masyarakat.

Sorotan tersebut datang dari Ketua DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Lahat, Parisman, bersama jajaran. PKB sendiri merupakan salah satu partai pengusung BZ–WIN pada Pilkada 2023 lalu, sehingga kritik yang disampaikan dinilai sebagai bentuk tanggung jawab politik sekaligus pengawalan kekuasaan.

Menurut Parisman, persoalan utama bukan pada ketiadaan program, melainkan pada ketegasan kepemimpinan dalam mengeksekusi kebijakan. Ia menilai masih terdapat kelemahan dalam pengawasan, koordinasi antarorganisasi perangkat daerah (OPD), serta keberanian mengambil langkah tegas terhadap aparatur yang bekerja tidak maksimal.

“Publik menunggu sikap tegas kepala daerah. Janji menata kota dan membangun desa tidak cukup dengan slogan. Harus ada tindakan nyata, terutama dalam menertibkan tata kota, pelayanan publik, dan pemerataan pembangunan desa,” ujar Parisman.

Ia menambahkan, hingga saat ini masyarakat masih merasakan persoalan klasik, mulai dari penataan kota yang belum rapi, infrastruktur desa yang belum merata, hingga pelayanan birokrasi yang dinilai lamban. Kondisi tersebut, kata dia, membutuhkan kepemimpinan yang berani mengambil keputusan strategis, bukan sekadar kompromi politik.

PKB juga mendorong agar BZ–WIN melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja OPD, termasuk penempatan pejabat yang dinilai tidak sejalan dengan visi dan misi kepala daerah. Menurut Parisman, tanpa pembenahan internal, program unggulan hanya akan menjadi dokumen perencanaan tanpa dampak signifikan.

Di tengah dinamika tersebut, masyarakat Lahat kini berada pada posisi menunggu. Tahun pertama kepemimpinan dianggap sebagai fondasi penentu arah lima tahun ke depan. Publik menilai, inilah momentum bagi BZ–WIN untuk menunjukkan keberpihakan yang jelas, ketegasan dalam memimpin, serta keberanian menata sistem pemerintahan secara serius.

Jika sikap tegas itu tidak segera ditunjukkan, kekhawatiran pun muncul bahwa harapan besar saat Pilkada lalu hanya akan berakhir sebagai catatan janji politik. Sebaliknya, bila evaluasi dan pembenahan dilakukan secara nyata, BZ–WIN masih memiliki ruang untuk membalikkan keraguan menjadi kepercayaan publik.

Tahun pertama hampir usai. Kini, bukan lagi soal program apa yang direncanakan, melainkan sejauh mana keberanian pemimpin daerah menegakkan disiplin, keadilan, dan kepastian arah pembangunan di Bumi Seganti Setungguan.

TIM